Renungan Bagi Kita Semua

Setiap insan berharap apa yang ia telah amalkan bernilai ibadah dan mendapatkan pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Disebut sebagai ibadah adalah apa yang Allah ‘Azza wa Jalla cintai dan ridhoi, baik itu berupa perkataan maupun perbuatan ditujukan hanya untuk-Nya semata, bukan untuk di hadapan sesama makhluk.

Jangan sampai amal kita semua rusak karena sebab ingin mendapatkan acungan jempol dari keluarga, teman, tetangga ataupun atasan.

Apa yang bisa dikerjakan dan diselesaikan oleh diri kita dan sesuai amanahnya tentu in syaa Allah ini merupakan amalan yang besar pahalanya di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Dan inilah yang disebut profesionalisme dalam sebuah amanah yang telah ditugaskan.

Sembunyikanlah amal kita semua!, dengan berusaha sama-sama mengharap ridho Allah ‘Azza wa Jalla semata.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan:

“Keikhlasan itu bagaikan seorang yang berjalan di atas pasir; tidak terdengar langkah-kakinya, namun terlihat bekas-bekasnya.”
(Jami’ul ‘Ulum wal-Hikam 302)

Apa yang bisa diselesaikan segera tentu akan lebih baik dan terasa hasilnya, tidak menunggu ada waktu dan tempat khusus.

Marilah sama-sama senantiasa merasa diawasi oleh Allah ‘Azza wa Jalla, apa yang diusahakan oleh setiap dari kita semua apapun amanah yang sudah diamanahkan, maka Allah akan membalas pahala dan kemudahan bagi pelakunya.

Saling menjaga kehormatan sesama muslim dan berusaha menutupi aib saudaranya dengan diingatkan secara pribadi dan jika kita mampu membantu maka segeralah dibantu, diusahakan sekuat tenaga apa yang ia lihat dan didengar dari kesalahan saudaranya diselesaikan tanpa harus diangkat ke waktu khusus.

Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i rahimahullah berkata:

“Bukanlah termasuk Ahlus Sunnah seorang yang gembira dengan ketergelinciran saudaranya dalam sebuah kesalahan.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Permisalan seorang mukmin dengan mukmin yang lain itu seperti bangunan yang menguatkan satu sama lain.” (HR. Bukhari, no. 6026)

Dengan cara dan jalan apakah agar persatuan kaum muslimin terjaga?.

Dengan jalan menyatukan hati kaum muslimin.

“Menyatukan jasad (badan) itu lebih mudah daripada menyatukan hati.” (Mutiara Nasehat Al Ustadz Muhammad Wujud hafidzahullah)

Asy-Syaikh Al-‘Allâmah Al-‘Utsaimin rahimahullah:

تزكية النفس مقدمة من تزكية الجسد

“Membersihkan jiwa (hati) itu harus lebih diutamakan daripada membersihkan badan.”

Bagaimana caranya menyatukan hati?.

Semangat menuntut ilmu agama dengan menerapkan adab dan akhlak sebagai penuntut ilmu tanpa membawa beban dengan merasa pernah belajar atau memiliki sebuah tanggungjawab lebih dari yang lain. Dan jangan lupa iringi lah dengan mengingatkan kematian, karena apa yang kita kerjakan di dunia akan kita jumpai di alam kubur dan akhirat kelak.

Setiap insan akan ditanya atas kewajibannya, maka marilah berlomba-lomba menjadi terbaik di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla saja sesuai amanah yang telah diamanahkan

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas apa yang ia pimpin.” (HR. Bukhari, no. 6605)

Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla untuk lebih disatukan hati-hati kita semua di manapun kita berada. Âmîn

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

***

Disusun di bumi Allah. Ahad, 13 Muharram 1443..

Penulis: Abu Salman Al-Kwasayni

Artikel: www.muslimberdikari.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: