Muslim itu di atas syarat muslim yang lain

Muslim itu wajib menjalankan syarat dan perjanjian yang jelas dan tidak samar atas muslim yang lain.

Setiap yang mengaku dirinya sebagai mukmin yang lisannya mengucapkan bahwa ia beriman kepada Allah Ta’ala dan akan tegaknya hari kiamat, maka wajib baginya untuk membuat akad atau perjanjian sebuah amanah dan tugas untuk sesama muslim itu jelas.

Selama tugas dan amanah itu tidak menabrak rambu-rambu syar’i yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan dan setiap mukmin wajib mentaati dan menjalankannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

المسلمون على شروطهم

“Muslim itu di atas syarat (akad) muslim yang lain.” (HR. Abu Dawud, 3594)

Syariat Islam menyuruh kaum muslimin dalam membuat akad tugas atau amanah harus jelas tidak samar maupun melebar. Karena kalaupun sudah akad saja namun praktek kerjanya melebar dan menyelisih isi dalam perjanjian kerja ia disebut sebagai pelaku kedholiman, apalagi yang memang sengaja tidak menyebutkan tugas yang sebenarnya untuk dilaksanakan sehingga antara atasan dan anak buah sama-sama akan terus tak pernah longgar dadanya.

Lebih dari itu dengan menuliskan perjanjian kerja dan menjalankannya ini merupakan tanda seorang itu mencintai Nabi-Nya dan mentaatinya.

Tidaklah ia membuat akad atau surat kerja kepada anak buahnya dengan global dan melebar kemana-mana. Undang-undang negara saja mengatur tentang ini, terlebih aturan-aturan syar’i tentu lebih jelas lagi dan ketat untuk dijalankan.

Jangan sampai diri kita lebih takut dengan undang-undang negara, sementara aturan syariat agama malah sesuai hawa nahwu diri kita.

Kita semua ini disuruh tunduk dan patuh dengan dalil, bukan dalil yang harus mendukung perbuatan dan hawa nafsu kita, namun tidak tepat pendalilannya.

“Semua orang memiliki dalil, namun tidak semua mampu untuk menerapkan dalil tersebut.”

Menerapkan dalil itu sangat mudah dengan melihat dan mendengar penjelasan para Ulama dan adakah contoh dari para Salafhus shalih atas sebuah dalil yang telah kita terapkan. Karena manhaj salaf itu manhaj meniru dari pendahulunya, jangan sampai lisan kita mengatakan dan menyeru; “marilah kita ikuti manhaj salaf”, namun kenyataan tidak terjadi pada diri kita, hanya ucapan dan rayuan semu, agar diri kita disebut sebagai salafi.

والله المستعان

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

***

Disusun di bumi Allah – Cilembu

Penulis: Abu Salman Al-Kwasayni

Artikel: www.muslimberdikari.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: